Friday, January 25, 2008

Sampah Kota Bandung

Ini pemandangan yang saya temukan di seputar lapangan olahraga terbaik yang bisa saya jangkau dengan berjalan kaki dari kosan saya, yaitu SABUGA. Sarana olahraga yang disediakan oleh SABUGA cukup lengkap, ada kolam renang, ada lapangan sepakbola, ada lintasan lari, lapangan basket, lapangan tenis dan mini soccer. Tapi, hari itu, sebetulnya bukan hari itu saja, ternyata pemandangan yang tidak menyenangkan ini bertebaran di mana-mana.



Ini lain tempat sama kota. Di pelataran jalan besar di kawasan Dago, Kota Bandung. Tumpukan inilah yang harus saya lewati setiap harinya ketika akan berangkat ke kampus. Pemandangan yang tidak saja menjijikan, tapi juga menakjubkan, seandainya saja anda bisa mencium baunya.


Ini di depan kantor Balaikota Bandung. Tumpukan sampah memang belum terlalu parah, tetapi, sebenarnya, melihat masih banyaknya pegawai yang bisa duduk-duduk dan ngobrol di sekitar balaikota, sepertinya sampah-sampah ini bisa lebih ‘ditertibkan’.

Sekali lagi, tulisan ini bukan tulisan yang dibuat untuk mendiskreditkan Kota Bandung. Karena jujur saja, kota ini lebih saya sukai dibanding Jakarta. Mungkin lantaran, kota Bandung menurut saya sangat mirip dengan kota kelahiran saya, Bukittinggi, dalam hal susunan dan suasana kota, eiiits.. maaf, sampahnya tidak termasuk. Namun, saya juga harus jujur, dengan suasana kuliah dulu di Jatinangor yang panas, membuat saya menjadi orang yang lumayan resek dengan yang namanya kerapian dan kebersihan lingkungan.

Cukuplah stress di jalanan yang disebabkan angkot. Stress di jajanan kakilima karena pengamen yang datang setiap menit, stress di kampus yang tidak jelas sebabnya kenapa dibagi dua Jatinangor dan Bandung, stress karena kos-kosan yang harus masuk gang dengan berbelit-belit, stress karena harus mengeluarkan Rp. 100.000,- untuk pembuatan Kartu Identitas Penduduk Musiman yang hanya berlaku enam bulan dan Rp. 225.000,- untuk pembuatan KTP Bandung. Rp. 300.000,- untuk SIM, sogokan polisi agar tidak disidang tilang sebesar minimal setengah uang denda.

Tulisan ini saya tujukan hanya untuk menyampaikan aspirasi seorang warga biasa kepada Pemda. Harapan saya semoga Pemda mau berkaca dan belajar. Bukankah Pemda rajin melakukan studi banding? Apakah tidak ada hasil studi banding yang menjelaskan teori jendela retaknya pemerintah kota New York? Teori yang mengatakan bahwa, seandainya ada sebuah jendela gedung kota yang rusak atau pecah, dan dibiarkan begitu saja, justru malah akan menyebabkan masyarakat semakin merusak, karena mereka merasa suasana gedung itu yang dibiarkan rusak adalah wujud dari pembiaran terhadap kekacauan yang terjadi. Ketika semua bangunan kota yang rusak segera diperbaiki dalam waktu singkat, ternyata jumlah vandalisme berkurang drastis.

Atau studi banding itu memang seperti yang disamapaikan para demonstran selama ini? Perjalanan liburan para pejabat kota?

Maaf pembaca, jadi esmosi gini. Kadang hidup di kota yang serba ‘nanggung’ seperti Bandung menjadi sebuah beban yang amat berat.

Semoga Bandung mau berubah menjadi lebih baik lagi. Amin.


No comments:

Post a Comment