Saturday, January 19, 2008

Perkembangan Dan Gangguan Kemampuan Bicara Dan Berbahasa

Sebenarnya ini tugas makalah saya di bagian Pedodontia (Kedokteran Gigi Anak) tapi, karena capek bikinnya, ga sempat bikin artikel khusus buat kesehtan di blog. Alhasil, daripada blog saya ga diupdate, mending tulisan ini saja yang saya posting. Semoga bermanfaat.



Ada tiga alasan kuat mengapa seorang dokter gigi harus memahami pasien cilikkecil mereka, dan memahami proses perkembangan dan patologi dari kemampuan bicara dan bahasa. Alasan itu adalah :

1. Dokter gigi akan menangani pasien anak-anak di usia di mana gangguan atau kelainan bicara dan bahasa menjadi sebuah kenyataan yang lazim.

  1. Dokter gigi mempelajari dan harus mengetahui anatomi dan fisiologi daerah orofasial. Pemahaman yang baik terhadap proses bicara adalah sebuah pengetahuan tambahan yang berhubungan erat dengan itu.
  2. Dokter gigi akan berhubungan dengan orangtua yang selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Dengan memahami perkembangan bicara dan bahasa pada anak, dokter gigi akan bisa menjelaskan segala sesuatunya tentang perkembangan si anak kepada orang tua mereka.

Selain berbagai alasan di atas, tujuan umum dari mempelajari perkembangan dan gangguan dari kemampuan bicara dan bahasa pada anak-anak ini adalah untuk lebih memahami tanda-tanda, implikasi, perawatan, dan hal lain yang berkaitan dengan pasien yang mengalami gangguan bicara, suara, bahasa, atau juga pendengaran.

Sebelum membahas lebih jauh, mungkin perlu dijelaskan kembali perbedaan antara kemampuan bicara dan bahasa. Bahasa adalah suatu langkah sistematis dalam mengekspresikan atau menyampaikan ide atau pun perasaan dengan menggunakan isyarat, tanda, simbol, dan terutama suara. Di sisi lain, bicara diartikan sebagai proses mengekspresikan atau menyampaikan pemikiran dalam bentuk kata-kata yang diucapkan. Sebagai contoh, ketika seorang anak yang sedang duduk di kursi pasien menangis, sebenarnya dia sedang menyampaikan atau mengungkapkan ketakutan atau kecemasannya, tapi proses ini bukanlah termasuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa atau pun bicara. Ketika dia menunjuk ke gigi yang sakit, si anak bisa dikatakan sedang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa. Dalam konteks ini adalah bahasa isyarat. Dan ketika si anak berkata, ”Gigi yang depan ini sakit.” berarti si anak sedang berkomunikasi dalam bahasa verbal atau bicara.

Bicara adalah hasil dari empat proses dasar yang terjadi pada tubuh seseorang. Proses tersebut adalah respirasi, fonasi, resonansi, dan artikulasi.

Respirasi

Proses respirasi dalam hal ini menjadi sumber tenaga ketika berbicara. Selama berbicara, terjadi tarikan nafas yang cepat dalam durasi yang tinggi. Terkadang ketika pembicaraan cukup panjang nafas yang keluar juga menjadi panjang. Banyaknya kata atau kalimat yang bisa diucapkan oleh seorang pembicara akan bergantung kepada kemampuannya dalam mengendalikan nafas, terutama nafas yang dikeluarkan.

Kelainan bicara jarang sekali disebabkan oleh masalah pada sistem pernafasan. Kecuali, pada beberapa kasus kelainan saraf dan kasus kerusakan sistem saraf pusat, misalnya kasus cerebral palsy.

Fonasi

Fonasi adalah proses yang terjadi di dalam tubuh manusia dimana udara dikeluarkan dengan melewati pita suara dan menggetarkan pita suara. Hasilnya keluarlah suara manusia. Kelainan pada laring akan membuat kualitas suara menurun dan sering terjadi suara serak, parau, dan terengah.

Resonansi

Ketika gelombang udara dari proses respirasi dan fonasi keluar, gelombang suara yang dihasilkan akan melewati beberapa ruangan yang disebut juga sebagai resonator. Proses inilah yang kemudian disebut sebagai resonansi. Proses ini jugalah yang akan memberikan warna pada suara, sehingga suara satu orang dengan orang lainnya akan berbeda satu sama lain. Rongga laring, faring, mulut dan hidung akan membuat semacam bentuk yang harus dilewati oleh gelombang suara untuk mengucapkan atau mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu yang diinginkan.

Gangguan pada mekanisme resonansi akan mengurangi kualitas suara yang biasa dikenal sebagai suara melengking, nasal (sengau), serak, datar, bergaung dll.

Artikulasi

Artikulasi adalah proses dimana suara dihasilkan oleh mekanisme laring (fonasi) dan dimodifikasi oleh beberapa rongga jalan suara (resonansi) kemudian dilanjutkan oleh beberapa gerakan khusus oleh mandibula, bibir, lidah, dan palatum lunak dalam struktur tertentu. Gerakan ini akan membentuk gelombang suara menjadi suara vokal dan konsonan yang merupakan unsur penting dalam berbicara.

2.1 Perkembangan Bahasa dan Gangguannya

2.1.1 Perkembangan Bahasa yang Normal

Pada tahun 1950an, Osgood, Sebeok dan Chomsky membuka lembaran baru dalam penelitian bahasa dengan teori psikolinguistik dan transformasi grammar. Implikasinya, kemampuan berbahasa sekarang bisa dianalisis dalam beberapa sub bidang yaitu fonologi (suara yang dihasilkan), sintaksis (struktur dan grammar), dan semantik (maksud dari pembicaraannya).

Berdasarkan definisinya, bisa dikatakan bahwa bahasa adalah ”apa yang anda katakan” dan bicara adalah ”bagaimana anda mengatakannya.” Dalam kasus terjadinya gangguan, jika seorang anak ditanya tentang sebuah gambar kera dan dia mengatakan ”kewa”, itu berarti gangguan bicara. Tapi jika si anak menyebut kera sebagai mobil, itu berarti gangguan bahasa.

Pada dasarnya, bahasa dibedakan menjadi dua tipe, yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Bahasa reseptif adalah kemampuan seseorang dalam menerima bahasa yang digunakan di sekitarnya. Sejauh mana orang tersebut bisa mengerti apa yang diucapkan orang lain kepadanya, apa yang disampaikan radio dll.

Bahasa ekspresif adalah bahasa yang digunakan untuk menunjukkan apa yang dirasakan, difikirkan, diinginkan oleh seseorang. Bahasa ini bisa berbentuk bahasa verbal (lewat mulut), isyarat, ”bahasa tubuh”, tulisan dll. Biasanya kemampuan menguasai bahasa reseptif mendahului kemampuan bahasa ekspresif.

Seorang anak akan melewati beberapa tahap kemampuan berbahasa sesuai dengan usianya. Akan tetapi, bagaimana mereka melewati tahapan-tahapan tersebut ternyata sama sekali tidak dipengaruhi oleh wilayah tempat tinggal mereka, ras, budaya, atau bahasa ibu mereka. Perkembangan kemampuan bicara ternyata sama saja dengan kematangan proses fisik lainnya misalnya berjalan. Bicara malah sama sekali tidak berproses seperti perkembangan pendidikan anak, misalnya membaca.

Seiring dengan erupsi gigi depan, anak-anak biasanya mulai mengucapkan sesuatu yang bisa dimengerti ketika berumur 6-12 bulan. Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan ‘ba’, ‘da’, ‘ka’ secara jelas. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkan. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti ‘bye-bye’ atau main ‘ciluk-baa’. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti ‘guk’, ‘kuk’, ‘ck’.

Lebih lengkapnya ditampilkan dalam tabel berikut ini.

Tabel Perkembangan Kemampuan Bahasa

Usia

Perkembangan Bahasa

Lahir

Tangisan bayi

2-4 bulan

Tertawa, vokalisasi yang acak

5-6 bulan

Mengoceh tidak jelas

7-9 bulan

Suku kata yang diulang (mama atau dada)

9-12 bulan

Menirukan suara-suara di sekitarnya, kata pertama yang bisa dimengerti

13-15 bulan

Sikap ekspresif (kadang tidak jelas artinya), memahami perintah sederhana

18-24 bulan

Mulai mengucapkan kalimat, perbendaharaan kata bertambah, bisa mengucapkan 2 kata atau frase, memahami pertanyaan sederhana

2 tahun

Bisa mengucapkan aku, kamu, memahami kata kerja, bisa mengungkapkan perasaan

2½ tahun

Perbendaharaan kata meningkat tajam, bisa membandingkan dua hal

3 tahun

Mulai mengucapkan struktur kalimat yang benar, tapi tetap dalam bentuknya yang sederhana, 3-4 kata

4 tahun

Terbiasa menggunakan semua bentuk dasar kalimat dalam bentuk yang sederhana, menggunakan kata sifat, 6-8 kata per kalimat, sanggup mengikuti percakapan yang panjang

5 tahun

Menggunakan bahasa sebagai alat pergaulan, kalimat yang lebih panjang dan lebih kompleks, bisa menanyakan ’kenapa’ dan beberapa bentuk pertanyaan lainnya, menjelaskan situasi, tidak lagi menggunakan artikulasi yang kekanak-kanakan

6 tahun

Mengetahui lebih banyak perbendaharaan kata lagi, menggunakan lebih banyak kata depan, mengucapkan ’karena’ lebih banyak, lebih memahami sintaksis

7-9 tahun

Kalimat yang kompleks, artikulasi yang tepat untuk semua pembicaraan, grammar atau tata bahasa menjadi lebih baik

10-15 tahun

Kemampuan untuk mempelajari bahasa asing, memahami konsep-konsep yang lebih rumit

15 tahun ke atas

Pertambahan perbendaharaan kata berlanjut hingga dewasa

2.1.2 Perbendaharaan Kata

Perkembangan jumlah perbendaharaan kata adalah salah satu aspek dari perkembangan bahasa. Jumlah perbendaharaan kata pada seseorang sangat berbeda dengan orang lain. Semua dipengaruhi oleh lingkungan individu tersebut juga kondisi fisiologis dan psikologisnya.

Pertambahan perbendaharaan kata yang sangat drastis terjadi antara tahun kedua dan ketiga usia anak. Hal ini mungkin disebabkan lantaran si anak sudah memiliki kemampuan lokomotor dan mulai sibuk menjelajahi dunia barunya.

Tabel Hubungan Usia dengan Perbendaharaan Kata

Usia

Jumlah Kata

6 bulan

0

1 tahun

1-4

1½ tahun

10-24

2 tahun

250-300

2 ½ tahun

440-500

3 tahun

850-1000

3 ½ tahun

1200-1300

4 tahun

1450-1580

4 ½ tahun

1700-1870

5 tahun

1900-2100

5 ½ tahun

2200-2289

6 tahun

2500-3000

6 tahun ke atas

Terus bertambah sampai tua

Panjang Respon Berdasarkan Usia

Usia

Panjang Respon

Contoh

1-1 ½ tahun

Kalimat satu kata

”Bola”, ”Atas” (biasanya diiringi isyarat)

1 ½ - 2 tahun

Kalimat dua kata

”Mama pergi”, ”Mau makan”

2 tahun

Kalimat 3-5 kata

”Mobil besar itu”, ”Itu buku mama”

3 tahun

Kalimat 4-6 kata

”Aku punya anjing putih”

4 tahun

Kalimat 6-8 kata

”Aku punya anjing dan kucing besar”

5 tahun

Kalimat 7-10 kata

”Kenapa Mama tidak ikut di dalam mobil ini?”

6 tahun

Kalimat >9 kata

”Toni tidak jadi ke sekolah karena dia sedang sakit perut”

6 tahun ke atas

Kalimat yang lebih rumit dan lebih panjang

”Aku akan membawa bola itu ke lapangan dan bermain bersama teman-teman sekolahku sampai nanti sore”

2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kemampuan Bahasa

Sebagaimana hal lainnya, perkembangan kemampuan berbahasa pada setiap orang dipengaruhi oleh berbagai hal. Misalnya, anak perempuan lebih cepat dalam menguasai bahasa di setiap jenjang usia mereka dibandingkan anak laki-laki.

Beberapa hal yang berpengaruh besar terhadap perkembangan kemampuan berbahasa adalah :

  1. Gangguan pendengaran atau tuli.

Kehilangan pendengaran akan membuat sangat sulit atau bahkan mustahil bagi si anak untuk dapat menguasai kemampuan berbahasa.

  1. Gangguan saraf.

Ini termasuk kasus cedera otak, kelainan sistem saraf pusat dll.

  1. Sakit yang lama.

Penyakit bisa terjadi pada salah satu fase dalam perkembangan kemampuan berbahasa, dan ini bisa menyebabkan tertundanya perkembangan kemampuan berbahasa.

  1. Intelejensia.

Tingkat intelejensia si anak akan menentukan apakah dia dapat berkembang sesuai fase normal ataukah tidak.

  1. Status sosial ekonomi.

Beberapa peneliti menunjukkan kenyataan bahwa beberapa anak dari kalangan ekonomi rendah mengalami ketertundaan dalam perkembangan kemampuan berbahasa.

  1. Jenis kelamin

Sebagaimana disebutkan di atas, anak perempuan cenderung lebih cepat dalam menguasai kemampuan berbahasa dibandingkan anak laki-laki.

  1. Lingkungan sekitar rumah.

Rangsangan berbahasa, kemampuan berbahasa dan bahasa yang digunakan oleh orangtua si anak akan mempengaruhi perkembangan kemampuan bahasa si anak.

  1. Besarnya keluarga.

Beberapa penelitian beranggapan anak tunggal akan lebih cepat menguasai bahasa. Sementara beberapa orang beranggapan justru anak di keluarga besar akan lebih terangsang kemampuan berbahasanya dikarenakan tingginya interaksi dengan anggota keluarga lainnya.

  1. Penggunaan bahasa di rumah.

Jika di rumah digunakan lebih dari satu bahasa, anak akan mengalami kesulitan untuk menguasai kemampuan berbahasa.

  1. Pengaruh genetik.

Beberapa penelitian membuktikan ada hubungan antara susunan genetik yang diwariskan ke dalam tubuh si anak dengan perkembangan kemampuan berbahasa si anak.

  1. Idiofatik.

Ada banyak kasus anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan kemampuan berbahasa tanpa diketahui penyebab pastinya.

2.1.4 Gangguan Kemampuan Bahasa

Tentunya akan sangat sulit untuk merawat anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan kemampuan bahasa tanpa mengetahui penyebab terjadinya gangguan berbahasa tersebut. Gangguan gigi dan kemampuan berbahasa mungkin sekali terjadi di banyak kasus sindrom kongenital. Sebagai contoh, pasien dengan Sindrom Down, atau Trisomi 21, kemungkinan besar akan mengalami penyakit periodontal dan sekaligus keterlambatan kemampuan berbahasa.

Mungkin seorang dokter gigi sangat mudah melihat tanda-tanda apakah seorang pasien terkena cerebral palsy, bibir sumbing, atau sindrom Down. Tapi dia tidak bisa begitu saja mendiagnosa bahwa si anak mengalami gangguan perkembangan berbahasa.

Untuk keperluan diagnosis banding dalam pemeriksaan klinis, bahasa digolongkan ke dalam empat kategori besar, yaitu :

  1. Kemampuan Berbahasa Normal

Jika si anak terlihat bisa mengikuti percakapan dan perintah, jika jumlah perbendaharaan kata sesuai dengan usianya, dan jika rata-rata panjang responnya sesuai untuk usianya, kemungkinan besar si pasien berada pada jalur yang benar dan tidak mengalami gangguan apa-apa.

  1. Kemampuan Berbahasa Terlambat

Jika berdasarkan tabel-tabel yang dicantumkan dalam tulisan ini, si anak memiliki kemampuan yang tidak sesuai dengan usianya, dengan kata lain si anak memiliki kemampuan setara dengan anak di bawah usianya, maka bisa dikatakan si anak mengalami keterlambatan kemampuan berbahasa. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, keterlambatan ini bisa disebabkan oleh kehilangan pendengaran dan faktor-faktor lainnya.

  1. Penggunaan Bahasa yang Tidak Teratur

Para ahli agak sulit dalam menggolongkan kasus ini. Jika digolongkan sebagai terlambat tidak bisa, begitu juga jika harus digolongkan sebagai normal juga tidak. Pada kasus ini, si anak menggunakan bahasa dengan susunan tata bahasa yang tidak benar. Ada yang berpendapat ini disebabkan kelainan sistem saraf pusat. Tetapi, sebab-sebab pastinya sampai saat ini belumlah diketahui dengan pasti.

  1. Kemampuan Berbahasa yang Ganjil

Pada kasus ini, si pasien mengalami apa yang dianggap sebagai ganjil, aneh, tidak biasa. Si anak mengeluarkan reaksi yang sama sekali tidak sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Biasanya kasus ini terjadi pada pasien dengan autis, schizofrenia kanak-kanak, dan kelainan otak lainnya.

Tetap saja, diagnosis kelainan kemampuan berbahasa adalah hal yang sulit. Bahkan untuk seorang yang sudah terlatih sekali pun.

2.2 Perkembangan Bicara dan Gangguannya

Gangguan perkembangan bicara pada umumnya ditujukan pada kasus gangguan artikulasi, ritme bicara, dan suara.

2.2.1 Perkembangan Bicara dan Produksinya

Pada kebanyakan bahasa, ada bunyi-bunyi dasar yang dikombinasikan hingga membentuk kata-kata yang berarti. Dalam bahasa Indonesia, bunyi-bunyi ini digolongkan ke dalam dua golongan besar yaitu vokal dan konsonan. Suara vokal keluar sebagai hasil dari rongga-rongga resonansi di dalam mulut. Suara konsonan dihasilkan dengan proses lain. Misalnya ’p’,’b’, dan ’m’ yang diucapkan dengan mempertemukan kedua bibir. ’f’ dan ’v’ dihasilkan dengan mendorong udara lewat pertemuan antara bibir bawah dengan gigi-gigi di rahang atas.

Bagian-bagian tubuh yang penting dalam menghasilkan sebuah kata atau suara dalam bahasa Indonesia adalah bibir, gigi, puncak tulang alveolar, pertemuan palatum keras dan lunak, dan tentunya pita suara.

2.2.2 Gangguan Keterlambatan Bicara

Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelejensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan.

Penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, di antaranya :

  1. Hambatan pendengaran

Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.

  1. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor

Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.

  1. Masalah keturunan

Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.

4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua

Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.

5. Faktor Televisi

Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.

2.2.3 Merangsang Kemampuan Bicara Anak

Bicara adalah salah satu alat komunikasi yang sangat efektif untuk membuat lingkungan mengerti apa yang kita butuhkan. Bahkan seorang bayi pun akan dapat merasakan bahwa dengan bicara, ia akan lebih mudah membuat orang lain mengerti maksud atau keinginannya, dibandingkan bila ia hanya bisa menggunakan bahasa tangis atau gerak tubuhnya. Misalnya saja, ketika seorang bayi merasa haus, maka ia akan lebih cepat mendapatkan minum apabila ia berbicara meminta minum ketimbang bila ia menangis yang bisa diartikan bermacam-macam atau membuat orang lain bingung.

Melihat pentingnya kemampuan bicara, maka selayaknyalah kita mengusahakan cara-cara yang dapat membuat anak memiliki kemampuan bicara. Agar anak dapat memiliki kemampuan bicara, maka selain diperlukan kematangan otot-otot bicaranya, diperlukan juga stimulasi atau perangsangan terhadap kemampuan bicaranya. Pemberian stimulasi bicara pada anak, dapat dilakukan oleh orangtua, pengasuh, keluarga, ataupun orang lain yang ada di lingkungan dimana anak tersebut berada.

Sebagai pedoman untuk dapat mengoptimalkan perkembangan kemampuan bicara anak, hendaknya orang yang memberikan stimulasi bicara pada anak, benar-benar dapat memanfaatkan sebaik mungkin masa-masa dimana anak benar-benar peka atau paling cepat menyerap pengajaran bicara yang diberikan kepadanya (teachable moment). Berdasarkan penelitian, masa dimana seorang anak peka terhadap pengajaran bicara adalah usia 18 bulan, karena pada usia inilah, kematangan otot-otot bicara sudah terbentuk dan secara mental, anak siap untuk mendapat pengajaran. Namun demikian, bukan berarti pada periode sebelumnya, tidak diperlukan latihan atau rangsang bicara. Latihan tetap diperlukan untuk menimbulkan efek positif dari kebiasaan mendengar. Seperti mendapat contoh bagaimana berbicara yang benar, bagaimana membuat kalimat, memperkaya kosa kata, dsb.

Selain itu, untuk dapat mengoptimalkan perkembangan kemampuan bicara anak, hendaknya dalam pemberian stimulasi bicara, tidak hanya menggunakan bahasa yang benar atau intonasi suara yang tepat saja, tapi gunakan juga gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Hal ini dimaksudkan agar isi pembicaraan dapat mudah dipahami oleh anak. Misalnya pada saat melarang si kecil membuang mainannya, selain berkata “jangan ya dik..”, kita juga bisa memperkuatnya dengan menggelengkan kepala atau mengisyaratkan tangan.

Dalam usaha menstimulasi kemampuan bicara anak, Berikut ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua atau orang-orang yang terlibat dalam pemberian stimulasi bicara pada anak:

  1. Membiasakan anak mendengar suara. Misalnya melalui kegiatan mendongeng, mendengarkan lagu yang kita nyanyikan sendiri atau dari kaset, memperdengarkan pembicaraan orang di radio atau televisi, dsb. Hal ini dimaksudkan agar anak terbiasa mendengar banyak kosa kata bahasa ibu, sehingga lambat laun ia dapat belajar menirukannya atau mengucapkannya.
  2. Beri dukungan atau respon yang positif kepada anak setiap kali si anak berusaha untuk bicara atau berespon terhadap rangsang bicara kita kepadanya . Misalnya dengan memberikan pujian, ciuman, senyuman, pelukan, dsb. Sehingga anak merasa senang dan cenderung mengulanginya. Namun sebaliknya, bila anak hanya menggunakan bahasa isyarat saja, jangan cepat-cepat berespon menuruti apa yang diinginkannya. Ajarkan dan contohkan bagaimana yang seharusnya diucapkan oleh anak.
  3. Sering-sering mengajak anak bicara pada saat berinteraksi dengan si anak . Misalnya ketika kita mau memandikan si anak, katakan dan tunjukkan pada anak anda benda-benda yang akan dipakai untuk keperluan mandi serta kegunaannya, seperti air hangat, handuk, sabun, sampo, dst. Pada awalnya memang anak masih belum mengerti apa yang kita ucapkan, tetapi lambat laun, si anak akan terbiasa belajar hal-hal penting, seperti mengenai bagaimana membentuk kalimat, konsep urutan kejadian, konsep sebab akibat, kosa kata, dsb. yang semuanya ini sangat berguna dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dan kemampuan berfikirnya kelak.
  4. Ajak anak jalan-jalan di lingkungan sekitar rumah. Misalnya ke taman atau sesekali berkunjung ke rumah tetangga atau saudara, agar anak dapat belajar dan terbiasa mendengar bagaimana orang lain bercakap-cakap.
  5. Berikan contoh berbahasa yang benar. Apabila anak masih belum mampu mengucapkan kata-kata dengan benar, maka orangtua seharusnya memperbaikinya dan tidak malah ikut-ikutan atau sengaja berbicara salah karena menganggap hal itu sesuatu yang lucu. Misalnya ketika anak bilang "cucu" maka orangtua seharusnya memperbaikinya dengan mengatakan “oh adik mau minum susu ya”. Hal ini dimaksudkan agar anak bisa belajar mengenai apa yang seharusnya diucapkan.
  6. Periksakan ke dokter atau ahli bila ada hal-hal yang janggal pada anak, seperti anak tidak berespon setiap kali kita berbicara, anak belum mampu berbicara pada saat usianya 2 tahun atau anak tenang saja pada saat diperdengarkan suara yang mengagetkannya. Karena hal ini mungkin terjadi akibat adanya masalah dalam organ pendengaran anak yang membutuhkan bentuk dan cara stimulasi yang lebih khusus dan intensif.

2.2.4 Garis Besar Perkembangan Kemampuan Berbahasa dan Bicara

Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi sebagai berikut:

0 - 8 Minggu

Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.

2. Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.

3. Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya.

4. Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia.

5. Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak bereda pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti :”rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,....coba biar Ibu lihat...”

8 - 24 Minggu

Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti “eh”, “ah”, “uh”, “oh” dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti “m”, “p”, “b”, “j” dan “k”. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan “tunggal” dengan menyuarakan “gaga”, “ah goo”, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan “ma”, “ka”, “da” dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.

2. Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.

3. Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.

4. Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan “nyam-nyam”

28 Minggu - 1 Tahun

Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan “ba”, “da”, “ka” secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti “bye-bye” atau main “ciluk-baa”. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti “guk”, “kuk”, “ck”

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas.

2. Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan “suaranya”, apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa “tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan”

3. Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, “betapa pandainya dia”.

4. Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi.

1 Tahun - 18 Bulan

Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada porsi / situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Semakin mengenalkan anak Anda dengan berbagai macam suara, bunyi, seperti misalnya suara mobil, motor, kucing, anjing, dsb. Kenalkan pula pada suara-suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dsb.

2. Sering-seringlah membacakan buku-buku yang sangat sederhana namun sarat dengan cerita yang menarik untuk anak dan gambar serta warna yang “eye catching”. Tunjukkan obyek-obyek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukannya, bagaimana jalan ceritanya. Minta lah padanya untuk mengulang nama yang Anda sebutkan, dan jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama yang Anda sebutkan.

3. Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk pada setiap obyek yang dilihatnya

4. Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka dengan kegiatan seperti menghitung benda-benda sederhana yang sedang dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana yang santai dan nyaman agar anak tidak merasa ada tekanan keharusan untuk menguasai kemampuan itu

18 Bulan - 2 Tahun

Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti “mana ?”, “dimana?” dan memberikan jawaban singkat, seperti “tidak”, “disana”, “disitu”, “mau”. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti “punya ani”, “punyaku”. Bagaimana pun juga, sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering kabur, misalnya “balon” jadi “aon”, “roti” jadi “oti”

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Mulailah mengenalkan anak Anda pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas. Seperti “baik, indah, cantik, dingin, banyak, sedikit, asin, manis, nakal, jelek, dsb. Caranya, pada saat Anda mengucapkan suatu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya “anak baik, anak manis, anak pintar, baju bagus, boneka cantik, anak nakal, roti manis”, dsb

2. Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang menerangkan keadaan atau peristiwa yang terjadi : sekarang, besok, di sini, di sana, kemarin, nanti, segera, dsb

3. Anda juga bisa mengenalkannya kata-kata yang menunjukkan tempat : di atas, di bawah, di samping, di tengah, di kiri, di kanan, di belakang, di pinggir; Anda bisa melakukannya dengan menggunakan contoh gerakan. Banyak model permainan yang dapat Anda gunakan untuk menerangkan kata-kata tersebut, bahkan dengan permainan, akan jauh lebih menyenangkan baginya dna bagi Anda.

4. Yang perlu Anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak Anda dengan anak-anak lainnya karena tiap anak mempunyai dan mengalami hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak Anda kurang lancar dan fasih berbicara, janganlah kemudian menekannya untuk lekas-lekas mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini hanya akan membuatnya stress

2 Tahun - 3 Tahun

Seorang anak mulai menguasai 200 – 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog). Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung “sama”, misalnya “ani pergi ke pasar sama ibu”, untuk menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata “aku”, “saya” “kamu” dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Pada usia ini, anak Anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak-anak seusianya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak dikenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya. Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam nursery school adalah karena alasan tersebut, agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang diucapkan masih bersifat egosentris, namun lama kelamaan akan lebih bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya.

2. Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak Anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpannya dalam hati, dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pula lah anak Anda tidak hanya belajar berani mengekspresikan diri secara verbal tapi juga belajar perilaku sosial.

3. Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya. Lakukan ini secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dan mengenalinya dengan mudah ketika Anda mengulang cerita itu kembali di lain waktu.

3 - 4 Tahun

Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan “andaikan”, “mungkin”, “misalnya”, “kalau”. Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh. Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti “kenapa dia Ma ?”, “sedang apa dia Ma?”, “mau ke mana ?”

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

  1. Hindari sikap mengkoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar dan berusaha. Anda bisa mengulangi kata-kata tersebut secara jelas seolah Anda mengkonfirmasi apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, ia akan memahami kesalahannya tanpa merasa harus malu.
  2. Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, Anda bisa mulai mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sangat sederhana; dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu. Dengan cara itu, Anda melatih cara dan proses penyelesaian masalah pada anak Anda setahap demi setahap. Hasil dari tukar pendapat itu sebenarnya juga mempertinggi self-esteem anak karena ia merasa pendapatnya didengarkan oleh orang dewasa.
  3. Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia mulai belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, Anda bisa melihat respon dan reaksinya; jika ia melakukan apa yang Anda inginkan, dapat diartikan ia cukup mengerti kalimat Anda.
  4. Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik karena hal itu permainan mengasikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan, dan keingintahuan.

5. Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, Anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya. Jadikanlah saat-saat bersama anak Anda sebagai masa yang menyenangkan, ceria, santai dan segar. Buatlah ini menjadi kebiasaan di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum tidur atau di waktu sore hari.

Dari bahasan di atas kita bisa mengetahui bahwa dokter gigi akan sangat membutuhkan informasi tentang keadaan perkembangan bahasa dan bicara pada pasiennya. Pelayanan kesehatan dokter gigi akan menjadi sangat berharga bagi si anak dan orangtuanya jika dokter gigi mengenali kondisi-kondisi berikut ini.

  1. Perkembangan alami dari kemampuan bicara, bahasa dan pendengaran serta gangguan-gangguan yang mungkin dialami.
  2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan kemampuan bicara dan hubungannya dengan kesehatan gigi.

Tentu saja perawatan kesehatan gigi tidak serta-merta mengatasi masalah tersebut. Tetapi setidaknya perawatan kesehatan gigi akan mengurangi minimal satu faktor yang menyebabkan gangguan kemampuan bicara dan bahasa tersebut. Sehingga, nantinya si anak akan lebih berhasil ketika diserahkan kepada terapis bicara.

Seorang dokter gigi harus merujuk si pasien ke ahli terapi bicara atau tenaga medis terkait lainnya jika menemukan kondisi berikut ini pada anak tersebut :

Kemampuan Bahasa

  • Bayi tidak mengoceh atau berceloteh dan tidak merespon suara ketika berumur 9 bulan.
  • Anak tidak mengucapkan satu kata pun setelah berusia 18 bulan.
  • Anak tidak bisa mengkombinasikan kata-kata menjadi kalimat berarti setelah umur 3 tahun.
  • Anak sepertinya mendengarkan tapi tidak memahami pembicaraan setelah berusia 3 tahun.
  • Anak masih menggunakan struktur kalimat yang ganjil atau tidak beraturan setelah umur 5 tahun.

Kemampuan Bicara

  • Anak menggunakan suara-suara vokal dan atau jarang menggunakan suara-suara konsonan dalam pembicaraannya setelah umur 2 tahun.
  • Suara vokal si anak terganggu setelah umur 3 tahun
  • Perkataan-perkataan si anak masih tidak bisa dimengerti setelah umur 3 tahun.
  • Si anak masih tidak menggunakan beberapa konsonan setelah umur 4 tahun
  • Anak terlihat gagap setelah umur 4,5 tahun
  • Anak masih tidak bisa mengucapkan beberapa suara konsonan terutama yang diletakkan di akhir kata setalah usia 5,5 tahun.
  • Anak masih tidak mampu mengucapkan satu atau lebih suara konsonan atau mengabaikan penggunaannya setelah usia 8 tahun.
  • Si anak merasa kecewa atau sedih dengan perkembangan kemampuan bicaranya di usia berapa pun.

Kemampuan Suara dan Resonansi

  • Semua bentuk kualitas suara yang buruk (sengau, parau, serak) yang berlangsung lebih dari 2 minggu
  • Suaranya lebih lunak atau lebih keras dari biasanya
  • Pitch level lebih tinggi, rendah atau monoton.
  • Hanya bisa mengucapkan beberapa kata dalam satu helaan nafas, sehingga terlihat seperti orang yang tegang.
  • Suara terdengar seperti suara hidung, ditandai juga dengan adanya infeksi saluran nafas atas.

DAFTAR PUSTAKA

http://psikologianakindonesia.wordpress.com

http://www.e-psikologi.com/anak/bicara-3.htm

http://www.sahabatnestle.co.id/main/keluarga

http://www.e-psikologi.com/epsi/anak

http://www.saranaku.com/wicara.php

http://www.anakku.net/index.php


2 comments:

  1. sya ada mslh artikulasi..blh tlong sya.

    ReplyDelete
  2. Anthony Mohammed RobbinsFebruary 1, 2008 at 7:39 AM

    wah...maaf baru dibalas mas/mbak. soalnya saya baru ngupdate blog ini satu kali seminggu. jadi baru baca.
    saya juga seorang penderita gangguan artikulasi. saya cadel 'r'. tapi, saya tidak merasa terganggu dengan itu. alhasil, saya juga tidak mencari bantuan yang luarbiasa untuk menolong mengatasinya. tapi kalau mas/mbak memang merasa terganggu dengan gangguan artikulasi yang anda alami, silakan kunjungi Terapi Wicara – Sasana Bina Wicara
    Jl. Kramat VII No. 27, nomor telepon 3140636, atau Terapi Wicara & Bahasa – Sinar Hati
    (Ibu Rani Handayani)
    Cipinang Timur Raya No. 61 Jakarta Timur
    telepon 4754439 untuk yang di jakarta buat yangdi bandung mungkin bisa mencoba menghubungi dokter Yakobus Rungkat, spesialis kedokteran gigi anak. mudah-mudahan jawaban saya ini bisa membantu. terimakasih atas pertanyaannya. ^_^

    ReplyDelete