Friday, February 1, 2008

Gigi Impaksi

Gigi impaksi, maksudnya gigi yang terpendam di dalam tulang rahang atau terhalang jaringan gusi dan tidak berhasil muncul ke permukaan. Gigi impaksi ini bisa menyebabkan berbagai masalah di dalam mulut. Mulai dari rasa sakit yang mengganggu sampai gangguan yang lebih serius di mulut. Tindakan yang sering dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah pembedahan.



Gigi yang paling sering mengalami impaksi adalah gigi molar ketiga, atau dalam bahasa umumnya gigi geraham yang paling belakang, geraham ketiga. Manusia normal akan memiliki empat gigi geraham ketiga, yaitu di setiap sisi rahang, atas kanan, atas kiri, bawah kanan, bawah kiri. Gigi geraham ketiga ini adalah gigi yang paling terakhir muncul. Normalnya gigi ini sudah muncul ketika berumur 15-21 tahun.

Namun, seringkali gigi geraham ketiga ini tidak berhasil muncul dan malah terjebak di dalam tulang rahang. Dengan memahami kasus gigi impaksi akan membantu anda mengambil tindakan yang tepat dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi dengan adanya gigi impaksi.

Tanda dan gejala

Beberapa orang tidak pernah mengalami masalah dengan gigi geraham ketiga ini. Dengan demikian mereka hidup nyaman tanpa ada masalah apa-apa. Atau, ada juga sebagian orang yang merasa normal, padahal sebab utamanya mereka justru tidak menyadari kejadian impaksi di dalam rahang mereka.

Tanda-tanda umum dan gejala terjadinya gigi impaksi adalah :

  • Rasa sakit atau perih di sekitar gusi
  • Pembengkakan di sekitar rahang
  • Pembengkakan dan berwarna kemerahan pada gusi di sekitar gigi yang tersangka impaksi
  • Rahang sakit
  • Bau mulut
  • Rasa tidak nyaman ketika mengunyah sesuatu di sekitar daerah tersangka impaksi tersebut.
  • Sakit kepala yang lama atau sakit rahang

Penyebab

Manusia zaman dulu sangat mengandalkan geraham ketiga dan rahang yang lebih besar untuk mengunyah makanan mereka yang umumnya tidak selunak makanan zaman sekarang. Saat ini, makanan lunak ada di mana-mana, geraham ketiga yang dulunya sangat membantu, malah menjadi tidak terangsang keluar.

Gigi geraham ketiga berkembang sama dengan gigi-gigi lainnya. Tapi geraham ketiga butuh waktu yang lebih lama untuk terbentuk dan muncul ke permukaan. Semua jenis gigi sebetulnya bisa mengalami impaksi. Tapi, karena gigi geraham ketiga berada di paling belakang dan harus berjuang sendiri untuk menemukan ruang tumbuhnya (gigi lain biasanya sudah memiliki penuntun untuk tumbuhnya) maka geraham ketigalah yang paling sering mengalami impaksi.

Ketika berumur 8-9 tahun mahkota gigi geraham ketiga sudah mulai terbentuk di dalam kantung kecil yang berada di dalam rahang. Seiring waktu berjalan, gigi ini tumbuh lebih besar dan akarnya lebih menancap kuat ke tulang rahang. Ketika usia 20 tahunan, sebenarnya sudah waktunya untuk si gigi geraham keluar dari rahang dan gusi, muncul ke permukaan. Ketika usia 40 tahun, akar gigi geraham ketiga ini sudah menancap kokoh dan tidak tergoyahkan di tulang rahang.

Pada beberapa orang, pertumbuhan gigi geraham ketiga ini tidak mengikuti proses normal yang kita ketahui. Apalagi, jika si pasien memiliki rahang yang kecil, akibatnya gigi-gigi tidak memiliki cukup ruang lagi untuk bergeser dan memberi tempat pada si geraham ketiga. Akibatnya, gigi geraham ketiga akan mengalami impaksi (tertahan).

Gigi geraham ketiga yang terus berusaha untuk tumbuh dan muncul ke permukaan mencari jalan lain. Akhirnya mereka memanjang atau tumbuh dalam arah yang tidak benar, bisa miring, bahkan kadang rebah total secara horizontal. Adakalanya juga gigi geraham ketiga muncul hanya sebagian saja. Tapi yang tersering adalah tidak muncul sama sekali.

Faktor resiko

Perhatikan orangtua anda, apakah rahang mereka tergolong kecil? (sebagai pembanding, rahang yang cukup besar itu adalah rahang yang dimiliki orang Batak atau Irian). Selain hal ini, tidak ada atau belum ditemukan lagi hal lain yang menjadi faktor resikonya.

diagnosis

Dokter gigi anda akan memeriksa gigi dan mulut anda untuk menentukan apakah benar anda mengalami kasus gigi impaksi ataukah ada hal lain yang menjadi penyebab sakit yang anda rasakan. Beberapa pengujian yang biasanya dilakukan adalah :

  • Catatan medis terutama kesehatan gigi dan mulut.
  • Pemeriksaan di rongga mulut
  • Foto sinar x dari rahang atau bagian yang diduga impaksi.

Komplikasi

Gigi impaksi yang tidak segera diambil akan menimbulkan beberapa masalah lain. Masalah ini di antaranya :

  • Penyakit gusi. Bakteri dan makanan akan terjebak di dalam gusi yang menutupi gigi impaksi, hal ini bisa menimbulkan infeksi. Penyakit gusi yang dialami bisa ringan (gingivitis) atau menjadi lebih parah (periodontitis).
  • Crowding. Istilah ini biasanya ditujukan untuk susunan gig yang tidak teratur. Gigi geraham ketiga bisa mendorong gigi lain yang akibatnya merusak susunan gigi yang sudah rapi.
  • Berlubang. Karena gigi ini kadang posisinya sangat sulit dicapai saat menyikat gigi, mungkin saja jarang terbersihkan optimal. Akibatnya, muncul lubang gigi.
  • Kista. Gigi geraham ketiga ini mahkotanya terbentuk dalam sebuah kantung di rahang. Jika kantung ini tetap ada karena gigi yang tertahan, kantung ini bisa terisi cairan, akhirnya terbentuk kista yang bisa merusak tulang rahang, gigi bahkan saraf. Yang paling parah adalah terbentuknya tumor yang harus dibuang dari jaringan mulut.

Perawatan

Gigi impaksi tidak otomatis harus dibuang. Tapi, ada dua pilihan perawatan yang utama. Yaitu :

Perawatan konservatif
Jika gigi impaksi tidak menyebabkan masalah, dokter gigi anda mungkin akan menyarankan untuk membiarkan saja tapi dengan pengawasan. Hal ini juga berlaku untuk mereka yang tidak mungkin mengeluarkan gigi tersebut dengan alasan kesehatan.

Di bawah bimbingan dokter gigi anda atau ahli bedah mulut, anda bisa merawat gigi impaksi anda dengan berkumur menggunakan mouthwash (obat kumur), air garam atau obat penghilang rasa sakit. Tapi jika masalahnya semakin parah, sebaiknya memang dioperasi.

Pencabutan/pembedahan
Para ahli setuju bahwa ketika geraham yang terimpaksi menyebabkan komplikasi lebih parah, maka gigi tersebut harus dicabut.

Beberapa ahli malah memerintahkan pencabutan, tidak peduli apakah gigi tersebut memang menimbulkan masalah atau tidak. Mereka berpendapat, gigi impaksi, meskipun belum menimbulkan masalah, akan menimbulkan masalah suatu saat nanti, dan sebaiknya ketika si pasisen masih muda segera dicabut. Penyebabnya karena semakin muda pasien, semakin cepat dia mengalami penyembuhan setelah operasi. Inilah sebabnya mengapa ada banyak anak SMU atau kuliahan yang dioperasi untuk mencabut gigi impaksinya. Bahkan, jika si anak akan memakai kawat gigi, dokter giginya biasanya akan menyarankan pencabutan gigi ini dulu.

Sebetulnya tidak ada yang salah atau yang benar, apakah anda mencabut atau tidak, semua tergantung dari kondisi anda sendiri. Seperti undang-undang kesehatan yang baru, dokter hanya menyarankan dan pasienlah yang akan memutuskan apakah anda memang perlu pencabutan atau tidak.

Pencabutan gigi impaksi
Pencabutan ini dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan anestesi (bius) lokal. Biasanya bisa dilakukan oleh dokter gigi umum. Tetapi, jika ternyata kasusnya lebih rumit, dokter gigi umum tersebut akan merujuk kepada dokter gigi ahli bedah mulut. Untuk kasus yang lebih rumit ini, anda mungkin harus dirawat di rumah sakit dan dianestesi umum.

Untuk mengeluarkan gigi impaksi ini, sebuah sayatan akan dibuat di gusi. Sayatan ini akan menghasilkan flap (apa ya istilah awamnya?) yang bisa disambungkan kembali setelah gigi dikeluarkan.

Gigi impaksi sebagian, biasanya bisa dikeluarkan dengan menggunakan forsep (tak tahu istilah awamnya). Tapi gigi yang sudah tertancap terlalu dalam mungkin harus dihancurkan dulu sebelum dikeluarkan. Pada kasus paling parah, sebagaian tulang rahang juga harus dibuka.

Setelah operasi, gusi dijahit kembali.bekas tempat gigi impaksi tadi akan dibungkus dengan perban khusus untuk mengendalikan perdarahan dan membantu terbentuknya bekuan darah yang akan mempercepat penyembuhan.

Perawatan setelah pembedahan
Dokter gigi anda atau ahli bedah mulut akan memberikan petunjuk khusus untuk merawat mulut anda sehabis pencabutan gigi impaksi. Beberapa tips dalam perawatan setelah operasi :

  • Aktivitas. Beristirahatlah beberapa hari setelah pembedahan. Jangan melakukan olahraga keras atau mengendarai kendaraan roda dua. Jangan merokok untuk minimal sehari setelah pembedahan (hal ini akan mengganggu bekuan darah yang sudah terbentuk di dalam bekas operasi).
  • Makanan. Minum air putih dan makan makanan yang lembut untuk 12 jam pertama setelah operasi. Tapi, jika anda mencabut lebih dari satu gigi, makan makanan yang lembut atau lunak selama beberapa hari setelah pencabutan. Jangan menggunakan sedotan, karena akan mengganggu bekuan darah yang sudah terbentuk. Jauhi makanan yang keras atau kerupuk selama dua minggu setelah operasi.
  • Manajemen rasa sakit. Biasanya anda akan membutuhkan obat penahan rasa sakit beberapa hari setelah operasi. Menggunakan kompres dingin akan mengurangi rasa sakit dan juga pembengkakannya.
  • Perdarahan. Darah yang keluar dari bekas operasi adalah hal normal pada hari pertama. Akan lebih baik jika anda menelan darah yang keluar tersebut daripada meludahkannya (akan merusak bekuan darah). Mintalah petunjuk dokter gigi atau dokter gigi bedah mulut anda tentang cara melepaskan perbannya.
  • Pembengkakan. Rahang bengkak setelah operasi adalah hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Gunakan kompres dingin untuk mengatasinya. Beberapa dokter gigi mungkin akan menyuntikkan steroid untuk mengendalikan pembengkakan ini.
  • Membersihkan mulut. Sehari setelah operasi, kumur-kumurlah dengan air garam minimal enam kali sehari. Gosoklah gigi anda, tapi hati-hati ketika memasuki daerah bekas operasi.

Komplikasi yang mungkin terjadi setelah operasi :

  • Biasanya gigi, gusi, lidah, dan pipi akan mengalami mati rasa untuk beberapa waktu setelah operasi.
  • Dry socket (ternyata tidak terbentuk bekuan darah yang diinginkan di bekas pencabutan gigi tersebut)
  • Infeksi bakteri atau sisa makanan yang mengganggu.
  • Masalah sinus, jika gigi yang dicabut berada di dekat sinus.
  • Rahang agak ngilu atau tidak nyaman.

Mungkin tindakan ini tampak menakutkan. Tapi jika anda membiarkan gigi tersebut dan timbul komplikasi, akibatnya akan lebih parah. Bicarakan dengan dokter gigi soal ketakutan anda, dan ini memang normal.

Semoga bermanfaat !


3 comments:

  1. Kenapa ga disebutkan kalo gigi impaksi bisa menyebabkan gangguan berupa telinga berisik dan sering pusing? Saya pernah bertemu dokter gigi yang berkata demikian.
    Dalam kasus yang dialami istri saya memang benar. Setelah konsultasi ke dokter umum perihal telinga yang berisik, dikatakan sedang radang, setelah beberapa kali berobat tidak senbuh. Lalu dirujuk ke THT. Setelah dipeiksa (manual+audiogram) tidak ada masalah ditelinga, kemudian dirujuk ke Spesialis Syaraf. Divonis vertigo dan dilakukan cityScan untuk mengetahui penyebabnya, yang ternyata tidak ada masalah di kepala. Setelah hampir putus asa sudah 8x berobat di Syaraf tanpa hasil, kami bertemu dokter gigi ketika membersihkan karang gigi di klinik yang mengatakan geraham belakang istri saya belum tumbuh dan tidak ada tempat untuk tumbuh karena rahangnya sempit. Kami dirujuk ronten gigi, dan dianjurkan untuk operasi odontektomie (hasil ronten menunjukkan gigi geraham ke-3 miring dan tumbuh didalam gusi sehingga menjepit syaraf, mengakibatkan telinga berisik). Setelah operasi tersebut telinga istri saya sudah tidak berisik lagi. Gangguan syaraf yang lain (vertigo) juga tidak kambuh lagi.

    ReplyDelete
  2. terimakasih atas tambahan informasinya mas budi ^_^

    ReplyDelete
  3. saya baru saja operasi impaksi seminggu lalu. awal keluhannya karena rahang tidak bisa menganga secara leluasa (kurang dari 2 jari) dan terasa sakit. setelah di rontgen, dokter sp. BM menyarankan untuk operasi impaksi. sekarang ini rahang saya masih saja sakit dan sulit menganga. bahkan rahang bawah terasa lebih miring ke kanan dan mundur beberapa mili dari sebelumnya. mohon infonya donk mas, kira- kira masalah yg saya hadapi memang karena impaksi atau permasalahan yang lain ya ?

    ReplyDelete