Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Sunday, May 11, 2008

Professor Termuda di AS, Ternyata WNI

Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena namanya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya "pulang ke Jepang" untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia . Kenapa?



Nelson Tansu lahir di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.


Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai "The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award" mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia .


Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk "pulang". Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia . Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika , ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia . Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.

Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia . Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?


Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore , gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia . Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia . Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk "cari makan".


Tuesday, March 18, 2008

Calon Presiden Pilihan Rakyat

Berdasarkan hasil polling di www.tomoriku.blogspot.com, Fadel Muhammad terpilih sebagai calon presiden yang paling disukai. mungkin karena keberhasilan beliau yang luar biasa di Gorontalo, sehingga masyarakat memandang beliau sebagai orang yang kompeten untuk merubah nasib bangsa ini.


“Alumni ITB yang Hebat yakni Menghasilkan Banyak Uang dan Memperkerjakan Ribuan Orang.”

Hangat dan kebapakaan yang saya rasakan ketika mewancarai mantan aktivis mahasiswa Teknik Fisika ITB angkatan 72 di ruang makan siang VIP Aula Timur. Lika-liku perjalanan hidup pria gagah kelahiran Ternate, 20 Mei 1952 memang patut diacungi jempol. Sedari kecil pendiri PT. Bukaka Teknik Utama ini terlatih untuk mandiri dengan membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kue keliling kota.



Bagi Fadel, sukses adalah perjalanan bukan tujuan, sehingga berbagai peran baik semasa mahasiswa, menjadi pengusaha, bahkan setelah menjadi birokrat, dijalankan dengan sepenuh hati dengan mengukir prestasi. Dalam menjalani kehidupan ini, mahasiswa teladan ITB tahun 1975 ini mengambil falsafah perjalanan dari Safa ke Marwah, yang merupakan salah satu bagian dari Haji atau Umroh. Safa diartikan sebagai niatan dengan hati yang bersih sedangkan Marwah diartikan sebagai kepuasaan atau bersyukur atas hasil yang diperoleh.

Fadel mendefenisikan alumni ITB yang hebat yakni adalah yang bisa menghasilkan banyak uang dan memperkerjakan ribuan orang. Oleh karena itu diawal sambutannya sebagai pembicara di seminar The Key to Business Success yang diorganisir oleh KM ITB dalam rangkaian kegiatan IEC (Innovative Entrepreneur Challenge), beliau menyatakan kegembiraannya bisa bertemu dan berbicara di depan “lahan-lahan yang subur”, yakni mahasiswa-mahasiswi ITB yang memiliki capabilities atau modal kepandaian yang luar biasa. Namun hal ini tidak cukup, sebab untuk menjadi seorang entrepreuner diperlukan opportunity dan strategi. Beliau mencontohkan bagaimana negara Singapura, yang minim akan sumber daya alam, namun lihai dalam melihat dan memanfaatkan peluang telah menjadikannya salah satu Singa di Asia.

Sebagai alumni ITB pertama yang menjadi gubernur, saat ini kepiawaian beliau sebagai pengusaha dimanfaatkan dengan baik untuk ‘mentraining’ para birokrat dibawah jajarannya menjadi berjiwa entrepreuner sehingga lebih terbuka terhadap arus investasi demi pengembangan Gorontalo. Ayah lima putra dan dua putri ini mengaku tidak pernah melamar pekerjaan, bahkan untuk pertama kali ijazahnya dilegalisir untuk memenuhi administrasi kelengkapan menjadi gubernur Gorontalo.

Dalam buku Sang Entrepreuner, Fadel berusaha mengajarkan soal bagaimana mengelola sebuah daerah secara produktif, profesional, dan transparan, walaupun dengan infrastruktur minim. Kemudian memberdayakan masyarakat dengan model kewirausahaan, dan bagaimana mengubah kemiskinan, keterbelakangan serta ketiadaan SDM menjadi sebuah peluang emas yang tidak ternilai harganya.

Maka tak heran, Fadel mengharapkan ITB sebagai Center of Excellent untuk terus mengembangkan teknologi di daerah-daerah, seperti kerjasamanya untuk sistem pengolahan limbah dengan ITB saat ini. Ia juga meminta alumni ITB untuk turun ke daerah-daerah sebab SDM sarjana yang berapresiasi pengembangan teknologi daerah masih minim. Fadel juga mengharapkan learning orientation ditumbuhkan dalam proses pendidikan sehingga ITB meluluskan sarjana siap bersaing di masyarakat.(intan)


Saturday, March 1, 2008

Selamat Jalan Om Gito......

Bangun Sugito (Biak, Papua, 1 November 1947 - Jakarta, 28 Februari 2008) atau lebih dikenal dengan nama Gito Rollies adalah salah satu penyanyi dan aktor senior Indonesia. Selain itu ia juga adalah mantan suami dari penyanyi Indonesia, Uci Bing Slamet.



Nama Rollies diambil dari grup band asal Bandung yang pernah terkenal pada masa 1960-an sampai dengan 1980-an yang terdiri dari Uce F. Tekol, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa, dan Teungku Zulian Iskandar.

Gito juga pernah berkiprah dalam dunia film, termasuk dalam film Kereta Terakhir dan Janji Joni.

Belakangan, nama Gito perlahan seperti lenyap. Ia memang jarang lagi naik pentas, seolah mengambil jarak dari hingar-bingar dunia musik serta hiburan. Publik musik Indonesia pun kehilangan seorang Gito yang dulu tampil begitu atraktif dan energik. Sebagai gantinya, masyarakat pun menemukan Gito yang menjadi seorang dai.

Sejak 2005, penyanyi bersuara serak dengan gaya panggung yang atraktif ini terbaring lemah tak berdaya terserang kanker kelenjar getah bening. Seminggu tiga kali ia harus menjalani kemoterapi di sebuah rumah sakit di Singapura, setelah sebelumnya menjalani operasi. Gito akhirnya wafat pada tanggal 28 februari 2008 setelah menjalani pengobatan.

Ketika bergabung dengan grup band The Rollies pada 1967, namanya melambung. Sebagai vokalis dengan aksi panggung memukau, Bangun Sugito tidak perlu menunggu lama untuk menjadi sosok terkenal. Di puncak popularitas, nama grup bandnya menjadi nama belakangnya. Gito Rollies. Namun, di balik gemerlap itu, pria yang hanya dua tahun mengenyam ilmu seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menyimpan sisi kelamnya. Minuman keras telah ditenggaknya sejak duduk di bangku SMA. Dunia narkotika pun digeluti tidak kurang dari 25 tahun.

Ketika usianya menginjak 50 tahun, pria kelahiran 1 November 1946 ini memilih berubah. Figur Mick Jagger, idolanya, berganti dengan nama Nabi Muhammad SAW. Hidayah itu akhirnya benar-benar datang.

''Allah kasih hidayah kepada saya sehingga saya mengerti bahwa kehidupan ini bukan hanya di dunia. Di akhirat juga. Justru itu yang selama-lamanya. Jadi, kesuksesan yang saya harus capai bukan hanya di dunia, tapi justru di akhirat saya harus sukses.''

Gito mengakui semula diajak teman-temannya menemukan kesadaran itu. ''Mari kita kerja sama Allah. Dia pasti bayar kita, tidak akan menipu. Gajinya, keselamatan dunia akhirat kalau kita bekerja sama Allah.''

Gito juga menyadari, ''Yang menggerakkan hati (saya), tentu Allah,'' ucapnya. Dia pun mulai berdakwah. ''Alhamdulillah, saya mendalami agama. Ternyata ada tugas saya, tugas yang Rasul kerjakan, mengajak orang kembali kepada Allah,'' kata penerima penghargaan Kalpataru pada 1979 berkat lagunya Kemarau.

Dia berdakwah tanpa menunggu undangan. ''Bagaimana agar orang kembali kepada Allah. Itu saja. Dan saya berdakwah hanya kepada orang Muslim, karena masih banyak orang Muslim yang tidak shalat.''

Rasa ngilu di punggung agaknya membawa perubahan dalam hidup Gito Rollies. Dia pun harus menerima kenyataan mendapatkan vonis mengejutkan dari dokter di Singapura.

Sekitar lima tahun silam, Gito kadang merasakan ngilu di punggungnya. Untuk menghilangkan rasa pegal itu, mula-mula ia minum jamu. Rasa pegal itu tidak juga mau enyah. Suntikan dari dokter pun tidak banyak membantu.

Dia mulai curiga, ini penyakit berat. Saat itu, 2005, usianya mencapai angka 59. Kondisi tubuhnya prima. ''Jadi, saya percaya diri banget. Tapi, begitu ada yang mencurigakan, itu pukulan banget,'' ucap ayah empat anak buah pernikahannya dengan Michelle, wanita berdarah Belanda ini.
Menyadari pentingnya kesehatan, Gito langsung mencari informasi mengenai penyakitnya. Ada yang menyebut dia mengidap tumor. Merasa ketakutan, seorang dokter sahabatnya menyarankan memeriksakan ke Singapura, sekaligus menengok anak keduanya yang bersekolah di negeri singa itu. Meski belum ada kepastian, dia kembali ke Indonesia. Namun tidak lama, ''Saya sempat kesemutan, sampai lumpuh total.''
Dua hari berselang, dia terbang ke Singapura. Apa boleh buat, dia harus dioperasi. ''Setelah operasi, ketahuan kanker limfoma.''

Kembali dari Singapura, wartawan dari berbagai media menemuinya. Kabar itu pun menyebar. Uluran tangan berdatangan, menawarkan jasa dengan beragam terapi dan obat.

''Saya coba semuanya. Apalagi mereka mau menolong dengan ikhlas. Sampai ada jamu satu meja.'' Bahkan ada yang menelepon, ''Bang Gito, saya sudah musyawarah dengan Allah tentang penyakit Bang Gito. Boleh saya datang?'' Tanpa berniat mengecewakan, Gito menjawab, ''Nanti saya telepon (balik).'' Semua bantuan itu dirasakannya sebagai obat. Dia pun mengaku urung menjual rumah berkat uluran banyak orang untuk biaya pengobatan. Kini, Gito dalam proses penyembuhan. Kendati tidak berhenti berdakwah, Gito harus menerima kenyataan lain. ''Saya belum bisa nyanyi, karena saya tidak bisa nembak tone dengan benar.'' Dia pun sekarang lebih getol memopulerkan penyakit limfoma. ''Yang penting jangan terkena. Itu yang saya promosikan, bagaimana pola hidup sehat. Kalau saya, saya menuduh pola hidup saya yang dulu. Saya dulu kan nge-drug, hidup ogah-ogahan. Tidak benarlah hidup saya.''

Pelantun lagu Astuti ini memang sudah berubah. Penampilan yang dulu garang di atas panggung dengan rambut gondrong, berkaos, dan siku tangan yang berhias kain terikat sudah berganti. Gito yang sekarang adalah Gito yang senantiasa bertopi haji dan bergamis.

Meski dakwah kini menjadi 'nama tengahnya', dunia seni tidak akan pernah ditinggalkan. Bahkan, dia berencana membuat album rohani. ''Itu profesi saya, hati saya sudah ke situ.'' Maka, ketika penghargaan sebagai Pemeran Pembantu Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2005 lewat film Janji Joni berhasil disabetnya, tidak banyak lagi kata yang terucap. ''Itu menjadi kebahagiaan buat saya. Ternyata, banyak orang sayang kepada saya. Itu obat banget.''

source: wikipedia, republika

Friday, February 1, 2008

Kriteria Keluarga Miskin yang Berhak Menjadi Peserta ASKESKIN

Menyimak cerita salah satu teman saya ketika masih bekerja magang di Puskesmas, seorang Ibu dengan gelang emas berderet di tangannya memperlihatkan kartu peserta ASKESKIN ketika dia akan menuliskan resep.

Hal ini mengusik perhatian saya, sebab kriteria seorang peserta ASKESKIN belum pernah saya atau pun kita ketahui bersama. Oleh karena itu, saya ingin berbagi informasi mengenai ASKESKIN dengan teman-teman pembaca.



Masyarakat miskin ditetapkan melalui kriteria yang telah digunakan oleh BPS yaitu :

a. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m² per orang.

b. Jenis lantai bangunan tempat tinggal adalah tanah, bambu, atau kayu murahan.

c. Jenis dinding tempat tinggal adalah bambu, rumbia, kayu berkualitas rendah, tembok tanpa diplester.

d. Tidak memiliki fasilitas tempat buang air besar atau menggunakan satu fasilitas tempat buang air besar bersama-sama dengan rumahtangga lainnya.

e. Belum menggunakan listrik sebagai sumber penerangan rumahtangga.

f. Sumber air minum masih mengandalkan sumur, mata air yang tidak terlindungi, sungai, atau air hujan.

g. Masih menggunakan kayu bakar, arang, atau minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak sehari-hari.

h. Tidak pernah mengkonsumsi daging, susu, atau ayam selama seminggu, atau hanya satu kali dalam seminggu.

i. Tidak pernah membeli pakaian baru, atau membeli pakaian baru hanya satu kali dalam setahun.

j. Masing-masing anggota keluarga hanya makan satu kali sampai dua kali dalam sehari.

k. Tidak memiliki kemampuan untuk berobat ke Puskesmas atau Poliklinik terdekat.

l. Pekerjaan utama kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 0,5 ha atau buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp. 600.000,- per bulan.

m. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga adalah Sekolah Dasar atau di bawahnya.

n. Tidak memiliki tabungan atau barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp. 500.000,-, seperti sepeda motor (kredit/non kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Jika keluarga yang berada di kota/kabupaten tersebut memenuhi minimal sembilan dari empatbelas ciri rumahtangga miskin, maka keluarga tersebut berhak menjadi peserta ASKESKIN.

Sementara itu, keluarga yang tidak layak menjadi peserta ASKESKIN adalah :

a. Keluarga yang tidak memenuhi minimal sembilan ciri rumahtangga miskin.

b. Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau anggota TNI/Polri.

c. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau anggota TNI/Polri.

d. Pengungsi yang diurus oleh pemerintah.

e. Penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap.


Friday, January 25, 2008

“IHSG Ambruk” Sumpe Lo?

23 Januari 2008

Hari ini, sebuah koran nasional nulis judul gede-gede “Indeks Ambruk”.

Memang sih, penurunan Indeks BEI lumayan gede juga. Dari rekor 2.830 sekarang jeblok ke level 2.291.


Dari apa yang ditulis di koran, terlihat sekali apa yang pernah disampaikan oleh mas Aidil Akbar, wealth planner terkenal yang nyiptain Rich Game. Beliau bilang, orang Indonesia itu aneh. Kalau bursa sedang jatuh, mereka justru segera jual saham. Sebaliknya, begitu bursa sedang naik, mereka justru beli saham dalam jumlah besar. Padahal, logika umum di kalangan praktisi ekonomi luar negeri adalah memborong saham ketika bursa ambruk. Soalnya, ketika bursa sedang ambruk, ada begitu banyak saham yang dijual dengan harga obral.

Di samping itu, berdasarkan konsep yang pernah saya dengar dari Pak Johan Dimalouw, orang yang mengalami kerugian ketika bursa jatuh itu adalah orang yang redeem (mencairkan sahamnya) ketika bursa sedang jatuh.

Hal ini bisa dibuktikan jika anda memperhatikan tren dari tahun ke tahun. Meskipun mungkin pernah terjadi penurunan pada beberapa kesempatan. Tapi, jika grafiknya digambarkan dari tahun 1998, orang-orang yang berinvestasi saat itu dan tidak mencairkan dananya hingga 2008 sudah mengantongi keuntungan besar 10 kali lipat dari dana awal yang mereka tanamkan. Grafik dari 1998-2008 adalah grafik naik.

Dengan demikian, dari keanjlokan bursa ini ada beberapa pelajaran penting buat para investor atau anda yang mau jadi investor.

  • Pastikan uang yang diinvestasikan adalah uang tidur.

Maksudnya, jangan sekali-kali jual rumah, tanah, ngegadaiin emas anda, hanya untuk bisa masuk lantai bursa. Ambillah uang dari pos yang memang dalam jumlah yang cukup dan gak akan dipake dalam jangka panjang, minimal 1 tahun.

  • Bagi keuangan anda menjadi tiga

Uang yang akan dipakai membiayai hidup sehari-hari.

Tabungan yang gampang diambil, terutama bisa lewat ATM.

Investasi.

Jadi ketika terjadi gejolak, anda tidak harus mencairkan saham-saham anda, karena masih ada uang di saku, kalaupun habis, masih ada uang tabungan.

  • Pilih manajer investasi yang bagus.

Pastikan mereka memiliki kapital yang cukup besar. Ekstrimnya, mereka tetap sanggup berjalan selama lima tahun seandainya investornya Cuma anda, itu pun dengan investasi 1 juta rupiah. Kalau gak? Bisa-bisa kita yang masih ‘waras’ tetap kelindes gara-gara orang-orang ‘gila’ yang ngambil dananya di perusahaan investasi tersebut.

  • Kalau anda main saham langsung.

Pastikan saham anda ditempatkan pada perusahaan blue chip. Mereka biasanya udah cukup kuat dan tidak akan terlalu terpengaruh oleh gejolak pasar. So, ketika bursa naik nanti, mereka masih exist di Indonesia.

  • Pastikan anda sudah menyadari resikonya.

Setiap usaha pasti ada resikonya, apa pun itu. Bahkan menjadi pegawai negeri pun beresiko, ketika harga melambung tinggi seperti saat ini, gaji pegawai negeri tetap tidak berubah (bisa disiasati dengan korupsi lebih besar kali ya?). Ketika anda sudah memahami resiko berinvestasi, anda akan siap untuk menghadapinya.

Punten, saya memang bukan ahlinya, ini sekedar berbagi informasi dengan anda tentang informasi yang pernah saya dapatkan.


Sampah Kota Bandung

Ini pemandangan yang saya temukan di seputar lapangan olahraga terbaik yang bisa saya jangkau dengan berjalan kaki dari kosan saya, yaitu SABUGA. Sarana olahraga yang disediakan oleh SABUGA cukup lengkap, ada kolam renang, ada lapangan sepakbola, ada lintasan lari, lapangan basket, lapangan tenis dan mini soccer. Tapi, hari itu, sebetulnya bukan hari itu saja, ternyata pemandangan yang tidak menyenangkan ini bertebaran di mana-mana.



Ini lain tempat sama kota. Di pelataran jalan besar di kawasan Dago, Kota Bandung. Tumpukan inilah yang harus saya lewati setiap harinya ketika akan berangkat ke kampus. Pemandangan yang tidak saja menjijikan, tapi juga menakjubkan, seandainya saja anda bisa mencium baunya.


Ini di depan kantor Balaikota Bandung. Tumpukan sampah memang belum terlalu parah, tetapi, sebenarnya, melihat masih banyaknya pegawai yang bisa duduk-duduk dan ngobrol di sekitar balaikota, sepertinya sampah-sampah ini bisa lebih ‘ditertibkan’.

Sekali lagi, tulisan ini bukan tulisan yang dibuat untuk mendiskreditkan Kota Bandung. Karena jujur saja, kota ini lebih saya sukai dibanding Jakarta. Mungkin lantaran, kota Bandung menurut saya sangat mirip dengan kota kelahiran saya, Bukittinggi, dalam hal susunan dan suasana kota, eiiits.. maaf, sampahnya tidak termasuk. Namun, saya juga harus jujur, dengan suasana kuliah dulu di Jatinangor yang panas, membuat saya menjadi orang yang lumayan resek dengan yang namanya kerapian dan kebersihan lingkungan.

Cukuplah stress di jalanan yang disebabkan angkot. Stress di jajanan kakilima karena pengamen yang datang setiap menit, stress di kampus yang tidak jelas sebabnya kenapa dibagi dua Jatinangor dan Bandung, stress karena kos-kosan yang harus masuk gang dengan berbelit-belit, stress karena harus mengeluarkan Rp. 100.000,- untuk pembuatan Kartu Identitas Penduduk Musiman yang hanya berlaku enam bulan dan Rp. 225.000,- untuk pembuatan KTP Bandung. Rp. 300.000,- untuk SIM, sogokan polisi agar tidak disidang tilang sebesar minimal setengah uang denda.

Tulisan ini saya tujukan hanya untuk menyampaikan aspirasi seorang warga biasa kepada Pemda. Harapan saya semoga Pemda mau berkaca dan belajar. Bukankah Pemda rajin melakukan studi banding? Apakah tidak ada hasil studi banding yang menjelaskan teori jendela retaknya pemerintah kota New York? Teori yang mengatakan bahwa, seandainya ada sebuah jendela gedung kota yang rusak atau pecah, dan dibiarkan begitu saja, justru malah akan menyebabkan masyarakat semakin merusak, karena mereka merasa suasana gedung itu yang dibiarkan rusak adalah wujud dari pembiaran terhadap kekacauan yang terjadi. Ketika semua bangunan kota yang rusak segera diperbaiki dalam waktu singkat, ternyata jumlah vandalisme berkurang drastis.

Atau studi banding itu memang seperti yang disamapaikan para demonstran selama ini? Perjalanan liburan para pejabat kota?

Maaf pembaca, jadi esmosi gini. Kadang hidup di kota yang serba ‘nanggung’ seperti Bandung menjadi sebuah beban yang amat berat.

Semoga Bandung mau berubah menjadi lebih baik lagi. Amin.


Dian Sastro dkk Kehabisan Kreativitas

Saya bukan orang suci dan juga mungkin pernah melihat hal-hal yang tidak senonoh. Tapi, saya tidak mau munafik melihat dunia ini.



Usulan untuk mengganti sistem yang berlaku di Lembaga Sensor Film dari sensor umum menjadi sensor bersistem klasifikasi sedang terus diperjuangkan para pekerja film yang sedang kehilangan kreativitas. Mereka beranggapan dengan sistem klasifikasi, seperti di televisi, ada tayangan yang harus ditonton +17 tahun, bimbingan orangtua, dan semua umur, film Indonesia akan lebih berkembang lagi.

Saya coba buang jauh-jauh atribut saya sebagai seorang muslim (soalnya Islam bertentangan dengan demokrasi) dalam menanggapi isu ini. Dan saya coba menjabarkan beberapa fakta yang istilah orang film, ”Betul-betul terjadi dalam masyarakat”. Sebagai orang Indonesia, tentunya kita tahu di tengah masyarakat sedang marak perkosaan yang diakhiri dengan pembunuhan terhadap anak di bawah umur, bahkan ada yang masih berstatus balita. Ada juga banyak kasus sodomi.

Ketika film diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi dewasa, umum, anak-anak dll. Anda tidak bisa menjamin seseorang yang berumur +17 tahun akan sanggup bertindak dewasa setelah menonton sebuah film. Justru merekalah yang akan menjadi sumber masalah. Seseorang yang sudah berusia +17 tahun harus mengeluarkan hasrat biologisnya jika dia terangsang setelah menonton film tersebut. Mungkin ada yang bisa bertahan, tapi bagi yang tidak mereka harus bisa menyalurkan. Untuk yang punya istri, atau pacar, mereka bisa menyalurkan (itu juga mungkin, kali aja si bapak pengen nyari tantangan baru dengan wanita lain gara-gara film itu). Tapi untuk yang belum menikah, syukurlah jika mereka hanya melakukan masturbasi. Yang akan lebih parah, jika yang menonton film tersebut adalah orang berumur +17 tahun dan tidak puas hanya dengan masturbasi, apalagi kalau miskin (tidak cukup untuk menyewa pelacur), moral rendah, yang akan merasakan akibatnya adalah orang-orang di sekitar mereka. Kadang yang diperkosa adiknya sendiri (Dian Sastro dilahirkan dalam kondisi ideal sebuah keluarga, makanya tidak bisa melihat kondisi nyata 70 persen rakyat Indonesia, dimana orang secantik dia juga bisa menjadi korban kasus ini), anaknya, anak tetangga, atau bahkan sodomi.

Singkat kata, setelah sistem klasifikasi diterapkan (seandainya terjadi sesuai dengan apa yang dikatakan Dian Sastro yaitu semua orang bisa mengawasi) siklus yang akan terjadi adalah begini. +17 tahun nonton film dewasa, ada yang tidak terangsang ada yang terangsang. Yang terangsang ada yang bisa melampiaskan tanpa efek samping, ada yang tidak bisa melampiaskan. Yang tidak bisa melampiaskan mencari pelampiasan lain, ada yang memperkosa ada yang nyari anak +17 tahun. Yang memperkosa merusak masa depan si cewek. Yang nyari anak +17 tahun nyodomi, merkosa balita dll. Alhasil kasus kejahatan terhadap anak meningkat. Si anak atau korban perkosaan merasa hancur, akhirnya dirinya atau keturunannya malah ikut rusak, merasa tidak berharga, jadinya pelacur dll. Pelacur menjadi ide film para sutradara, akhirnya siklus kembali ke awal. Begitu seterusnya.

Kenapa judul di atas saya sebut hilang kreativitas? Karena sepertinya pekerja film Indonesia ngotot sekali dengan masalah sensor ini. Sepertinya memang mereka sudah kehabisan ide untuk membuat film laris. Sehingga, sudah tidak sabar untuk menampilkan dada dan paha wanita atau adegan pembunuhan yang begitu nyata dan akan menarik lebih banyak penonton. Sayang kita hanya punya dua orang yang kreatif di film Indonesia, yaitu Deddy Mizwar dan Ari Sihasale. Film mereka berdua laris, mendapat penghargaan internasional, tanpa terlalu mengekspos dada paha, atau sayatan dan pukulan. Seandainya Dian Sastro dkk mau berkaca pada perfilman Iran yang mendapatkan berbagai penghargaan internasional meskipun mereka tidak menggembar-gemborkan dada dan paha atau kekerasan.

Saat ini, Indonesia berada di urutan kedua setelah Swedia dalam hal mendapatkan produk pornografi (berdasarkan sebuah lembaga internasional). Dengan kata lain, dengan sensor film yang kuat pun masyarakat sudah bisa mendapatkan tontonan-tontonan yang bebas sensor, bahkan kalangan bawah, dan anak-anak.


Saturday, January 19, 2008

Kawasan Pacaran Islami?

Kalau tidak salah, guru agama saya mengatakan Allah sangat mencintai anak muda, remaja yang hatinya selalu terpaut dengan mesjid.

Jika benar demikian, marilah kita meneladani beberapa pemuda dan pemudi ini. Hati mereka selalu terpaut dengan mesjid, sehingga mesjid sudah tidak bisa terpisahkan dari hati mereka.



Lokasi ini adalah Mesjid Raya di Alun-alun.

Setelah shalat Ashar, saya tertarik mengabadikan tingkah-polah kekasih-kekasih Allah ini, mudah-mudahan suatu saat nanti saya juga bisa mengikuti jejak mereka dalam meramaikan rumah Allah.


Naruto





Gara-gara demam Naruto, teman saya bela-belain beli patung Naruto kecil ini. Eh, bukannya dipajang, malah dijadiin tempat pensil. Tapi, fungsi aslinya emang ga ketahuan sih.

Dulu saya sempat suka Naruto, tapi sekarang sudah biasa saja.

Kemajuan Ekonomi?

Perkembangan Kota Bandung memang sangat pesat. Konon pemkot sedang mempersiapkan Bandung menjadi sebuah metropolitan kedua setelah Jakarta. Hal ini ditandai dengan berkembangnya berbagai hunian kelas I di beberapa sudut kota.



Salah satu tempat hunian kelas atas yang sedang ngetop di Bandung adalah Dago Butik (kenapa ya ada ’butik’nya? Jangan-jangan apartemen ini bekas pakai?). Apartemen, kondominium atau rumah mewah susun atau rumah susun mewah ini terletak di persimpangan jalan Juanda, atau yang lebih dikenal dengan sebutan wilayah ’Dago’.

Semakin lama Bandung memang semakin metropolis, semakin mirip dengan Jakarta. Dimana miripnya? Di setiap lokasi gedung-gedung megah, selalu terdapat lingkungan padat yang bolehlah dikatakan agak kumuh.

Dan Bandung juga semakin mendekati Paris. Yang membedakan hanya satu hal, Paris bebas sampah, tapi Bandung bebas ’nyampah’.

Hidup Bandung!!!!!!!!!


Tuesday, January 1, 2008

EKSPEDISI PAMALAYU MAHASISWA PADANG

Kamis, 27 Desember 2007. 50 mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang memulai Arung Sejarah Ekspedisi Pamalayu kemarin pagi. Ekspedisi tiga hari itu akan menelusuri jejak-jejak Adityawarman di Sumatera Barat.

Ekspedisi akan melalui Batang Hari dari Jambi (Selat Malaka) ke arah hulu yang terletak di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Di sepanjang aliran sungai itulah, terutama di nagari Siguntur, Dharmasraya, masih banyak arca, candi, dan pola kehidupan sosial peninggalan zaman Adityawarman.

”Termasuk di antaranya tapak patung Adityawarman yang sekarang berada di Museum Nasional Jakarta” ujar Nurmatias, Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang. Kegiatan arung sejarah ini akan mempelajari peninggalan-peninggalan tersebut.

Adityawarman adalah pendiri kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat pada 1347. awalnya ia adalah panglima Kerajaan Majapahit yang diberi tugas melakukan politik ekspansi di tanah Melayu. Dalam ekspedisinya itu, Adityawarman menaklukkan sisa-sisa kerajaan Sriwijaya.

Koran Tempo